Tentang Mendong

Mendong merupakan tanaman akuatik dengan nama latin  Fimbristylis glubolusa. Sebagai salah satu tanaman akuatik, rumput mendong dapat membantu menciptakan keseimbangan ekosistem baik secara langsung maupun tak tangsung antara lain sebagai sumber makanan organik, media bertelur dan tempat berlindung anakan ikan ataupun binatang air lainnya. Peran tanaman mendong yang tak kalah penting adalah sebagai indikator kualitas air karena mendong sanggup menyerap kotoran yang ukurannya sangat lembut dan melayang dalam air. Kotoran berukuran mikro tersebut dipergunakan mendong sebagai pupuk pertumbuhannya sehingga kondisi air tampak lebih jernih dan bersih. Mendong juga dimanfaatkan dalam fitorimediasi. Menurut Abdurachman et al (2000)  tanaman mendong mampu mereduksi 3,42 mg/kg logam Plumbum (Pb) dan 7,60 mg/kg logam Khromium (Cr). Dari uraian di atas diketahui bahwa rumput mendong dapat berperan sebagai pengelola polutan cair yang murah dan alami. Dengan demikian penanaman tanaman mendong dalam skala luas bila dikelola dengan baik sangat potensial untuk merevitalisasi lahan kritis yang setiap tahun cenderung meningkat.
Rumput mendong bukanlah tanaman pangan. Masyarakat Kabupaten Malang telah lama memanfaatkan rumput mendong sebagai bahan baku untuk pembuatan tikar. Tikar mendong ini bahkan telah menjadi salah satu produk unggulan industri kreatif Kabupaten Malang. Tikar mendong Kabupaten Malang tergolong khas dengan desain yang selalu mengandung warna merah, hijau dan ungu. Sampai kini tikar mendong diproduksi dengan cara tenun tradisional dan  merupakan seni kriya yang telah lama berkembang serta  menjadi warisan turun-temurun di lingkungan komunitas pengrajin tikar mendong.  Sebagai alas duduk tikar mendong memiliki beberapa keunggulan, diantaranya  lebih nyaman digunakan di daerah bersuhu panas dan lebih aman daripada tikar plastik. Hal ini  karena  tikar mendong berbahan baku alami. Keunggulan lain tikar mendong adalah ramah lingkungan sebab limbahnya lebih mudah terurai. Selain itu karena mendong bukan tanaman pangan, maka tikar mendong mampu memutus siklus pencemaran, artinya setelah logam berat terserap dalam proses metabolisme mendong, polutan yang diserap tidak berpindah tempat. Hal ini berbeda dengan tanaman kangkung dan eceng gondok yang meskipun mampu menyerap logam berat tidak memutus siklus pencemaran sebab residu polutan masih bisa masuk ke sistem metabolisme manusia melalui  konsumsi langsung. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar